Mahasiswa Autis di Gunadarma Jadi Korban Bullying? Ini Reaksi Banyak Orang

Jejaring sosial dibuat heboh dengan munculnya video yang memperlihatkan seorang pemuda autis tengah menjadi korban bullying dari sejumlah mahasiswa. Kejadian ini sendiri terjadi di Universitas Swasta Gunadarma, Depok, Jawa Barat. Banyak orang dari berbagai kalangan, termasuk para netizen yang menyesalkan perbuatan bullying tersebut sembari berkomentar.

Peristiwa ini sekaligus mengingatkan kita akan beberapa kasus yang serupa dan tidak hanya pernah terjadi di Indonesia saja melainkan sejumlah negara seperti misalnya di Korea kebanyakan remaja menjadi Iljin.

Kurang jelas kapan dan siapa pengunggah pertama video berjudul “Imparan tong sampah maut” itu. Namun ada sumber yang menyebutkan bahwa video ini diunggah pada hari Sabtu (15/7/2017) malam, oleh sebuah akun Instagram @Thenewbrikingregetan, dan ada pula sumber lainnya yang menyatakan video tersebut diunggah akun Instagram @lambe_turah, Minggu (16/7/2017).

Terlihat dalam video itu, seorang mahasiswa berkebutuhan khusus/autis mengenakan jaket abu-abu sedang dikerjai oleh tiga orang pemuda yang diduga juga adalah mahasiswa disana.

Satu pelaku tampak menarik tas ransel si korban, sehingga dia tak bisa melangkah untuk menghindar. Tidak lama berselang, datang lagi dua pelaku lainnya yang berdiri di hadapan korban seperti ingin meleceh. Korban sempat mengibaskan bagian sebelah tangannya demi melepaskan diri dari gangguan para pelaku. Akhirnya korban terbebas, dan seketika itu dia langsung berlari menggapai tempat sampah kemudian melemparkannya kepada pelaku.

Suasana saat pem-bully-an itu terjadi pun juga dipenuhi mahasiswa lainnya yang tampak tertawa menontonnya bahkan merekam kejadian tersebut.

Pihak Universitas Gunadarma sendiri membenarkan peristiwa tersebut terjadi di kampusnya.

“Memang ada kejadian seperti itu di kampus kami. Kami menyesali adanya kejadian itu dan akan mencari tahu serta menyelidiki kronologi kejadiannya,” ujar Wakil Rektor III Universitas Gunadarma, Irwan Bastian.

Tentu saja video ini mendapatkan beragam komentar serta hujatan dari sejumlah kalangan seperti netizen, aktivis, Menteri Sosial-Khofifah Indar Parawansa hingga seorang musisi Indonesia-Erdian Aji Prihartanto alias Anji.

Berikut beberapa komentar dan hujatan mereka terkait video bullying yang dilakukan terhadap mahasiswa penderita autis tersebut:

endang widuritriningtyas,“Saya punya anak autis, dan saya marah besar kepada yang mem-bully anak spesial seperti itu. Semoga kalian para pem-bully bisa merasakan seperti apa perasaan orang tua melihat anak spesialnya diperlakukan seperti itu.”

eri72as, “Palingan para pelaku entar mintak maaf Ini lah negeri yang kalau viral baru minta maaf.”

taufiqurrachman20, “Mereka belum mengerti apa itu ‘Mahasiswa’.”

rina_dwianggraini, “Ini yg namanya ‘ndeso’ ! Gak punya otak tu org . Status aj mahasiswa!!!!!!!.”

andrianekaputra07, “Tinggal di plosok kali tuh anak😄😄 masih kebawa kampungannya😄😄😄 miris njir liat mahasiswa kek gitu😂😂.”

arulaldiano, “Malu”in almamater aja gundar tu, akal masih primitif kali ya, rugi tinggal di kota besar 😂 @muhammadadlyy.”

swastikabi, “Padahal drajat mereka lah yang lebih rendah dari yang mereka bully.”

Sementara itu, Anji (musisi) mengunggah sebuah foto yang menampilkan tulisan “Jangan Bully Autis” melalui akun Instagram pribadinya @duniamanji, pada Minggu (16/7/2017).

A post shared by Anji MANJI (@duniamanji) on

Sedangkan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, amat menyayangkan kejadian bully tersebut sekaligus memamparkan data di Kemensos mengenai peristiwa bully yang masuk kategori rawan.

“Jadi sebetulnya soal bullying, saya pernah menyampaikan datanya agak rawan sekali jadi ada sampai 40 persen terutama anak-anak SD sampai SMP ketika di-bully itu frustasinya cukup dalam,” ucap Khofifah saat dimintai tanggapan mengenai video viral tersebut, Minggu (16/7/2017).

Di lain sisi, sekelompok orang (aktivis) yang menyatakan berasal dari berbagai organisasi dan yayasan terkait perlindungan terhadap manusia berkebutuhan khusus mendatangi Universitas Gunadarma, Depok, Senin (17/7/2017).

Salah seorang yang datang dan tergabung dalam aktivis itu diketahui bernama Farida Lucky Utami. Menurut Farida, ada 37 perwakilan organisasi dan yayasan yang datang pada hari ini. Mereka hadir dalam rangka mengajak pihak rektorat berdialog.

“Kami ke sini ingin berkoordinasi dengan pihak kampus untuk berdialog dengan pihak rektor dan memprotes kejadian ini. Dengan kejadian seperti ini lingkungan kampus belum siap menerima mahasiswa/anak berkebutuhan khusus,” kata Farida.

Dia juga mengatakan pihaknya merasa sedih dan miris dengan kasus tersebut. Kejadian ini telah melukai hati para orangtua yang anaknya merupakan anak berkebutuhan khusus.

“Sangat sulit mengantar anak berkebutuhan khusus sampai ke jenjang kuliah. Korban ini merupakan anak yang kuat karena sudah masuk ke jenjang kuliah,” ujar Farida.

Ternyata bukan hanya mereka saja yang melakukan protes dengan adanya peristiwa itu, namun Wakil Ketua DPR RI, Agus Hermanto, yang mendengar berita ini juga berpendapat bahwa Universitas Gunadarma harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Universitas harus bertanggung jawab, harus juga diurus secara tuntas siapa yang bersalah,” kata Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/7/2017).

Pihak kampus juga diminta untuk memberikan perlindungan yang baik kepada mahasiswanya, terlebih jika mahasiswa tersebut berkebutuhan khusus.

Di samping itu, Agus juga meminta pihak kampus meneliti mengapa kejadian semacam itu bisa terjadi. Pihak yang merasa dirugikan, kata dia, juga bisa melaporkan kepada Kepolisian.

“Bagi yang dirugikan rasanya bisa melaporkan kepada polisi karena ini juga bisa dikategorikan delik aduan. Tapi apabila memang sudah ada, maka ini bisa langsung diproses aparat penegak hukum,” tuturnya.

Pihak Universitas Gunadarma pun berjanji akan menindaklanjuti kasus tersebut. Sehingga, kasus bullying terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus tidak terjadi lagi di kampus Gunadarma.

“Pastinya akan kami tindaklanjuti kasus tersebut, tidak akan berhenti sampai di sini saja. Nantinya akan kami temui korban dan keluarga korban untuk menindaklanjuti kasus ini,” ujar Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Gunadarma, Irwan Bastian.

Irwan juga menambahkan, pihak universitas tengah melakukan pengumpulan data dan fakta dari pelaku pembully. Data-data tersebut akan dijadikan acuan untuk memberikan sanksi kepada pelaku.

“Kami akan cari tahu, yang jelas di Universitas Gunadarma sudah punya peraturan yang harus di diikuti oleh para mahasiswa sehingga kami akan melakukan penyelidikan dalam mengumpulkan data dan fakta. Nantinya kami bisa putuskan motifnya apa, kalau memang terkena peraturan yang berlaku di Universitas Gunadarma, maka kami akan berikan sanksi sesuai dengan kesalahan yang dilakukannya,” kata Irwan.

Korban bully adalah mahasiswa Universitas Gunadarma jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Komunikasi angkatan tahun 2016. Pelaku adalah teman sekelas korban di jurusan.

“Setelah ada kejadian seperti ini kami sedang melakukan penyelidikan mendata semuanya mengklarifikasi apa yang kami dapatkan baik juga kepada pelaku. Perlu juga kami sampaikan bahwa para pelaku itu adalah teman-teman sekelas,” jelasnya. (Ad)…

Related posts